Lahar Dingin Semeru, Antara ’Kutukan dan Berkah’ Dibalik Bencana
Lumajang- Terus meningginya debit hujan di puncak Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 di atas permukaan laut (mdpl) dalam beberapa pekan terakhir, membawa dampak luncuran lahar dingin.
Besarnya aliran lahar yang membawa material vulkanik ini, oleh para penambangan pasir, khususnya bagi mereka yang bekerja dengan metode tradisional, dianggap sebagai berkah dan bukannya musibah yang selama ini terkesan dibesar-besarkan.
Meski ketika debit luncuran material lahar dingin yang menerjang, terkadang sangat tinggi hingga membawa ’kutukan’ tersendiri berupa musibah, karena menggenangi lahan pertanian milik warga.
”Namun, itupun jarang terjadi. Kalau ada lahar dingin, material pasir dan bebatuan akan melimpah dan kami senang sekali,” demikian kata Wagino (32), penambang pasir DAS (Daerah Aliran Sungai) Besuk Sat yang membelah Desa/Kecamatan Pasrujambe kepada Beritalumajangpost, Sabtu (26/1/2013) sianf.
Semenjak kemarau sepanjang Tahun 2012 lalu yang nyaris tanpa hujan yang mengguyur, menyebabkan pasokan pasir dan material bebatuan dari hulu sampai ke hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) di kaki Gunung Semeru, sangat minim untuk di tambang.
”Akibatnya, para penambang terpaksa menggali lubang untuk mendapatkan pasir. Kalau terjadi lahar dingin seperti yang beberapa hari terakhir sering terjadi, mencari pasir di sungai tidak usah menggali lagi. Pasalnya, tumpukan pasir sudah banyak. Tinggal diangkut ke truk saja,” papar Wagino ketika ditemui Sentral FM bersama penambang pasir lainnya.
Tidak hanya material pasir saja yang menjaid potensi ekonomi bagi para penambang tradisional ini. Material bebatuan yang juga menggelundung dari puncak Gunung Semeru juga menjadi berkah tersendiri bagi para penambang tradisional ini karena bisa memasok rupiah bagi kebutuhanmereka sehari-hari.
”Bebatuan besar yang dimuntahkan dari puncak Gunung Semeru juga menjadi berkah bagi kami di bantaran DAS Gunung Semeru ketika aliran lahar dingin menerjanf. Malah, sejumlah warga yang bermukim di dengan bantaran sungai kerap memanfaatkan aliran lahar dingin yang kerap membawa material lain, berupa batang kayu yang ikut terseret sampai ke hilir sungai,” bebernya.
Wagino mengakui, ia bersama warga lainnya juga kerap mencari kayu yang terderet aliran lahar sampai ke DAS Besuk Sat. ”Kayu-kayu itu lumayan kalau dipotongi lagi untuk kayu bakar,” ucap Mbok Suyami (49), ibu rumah-tangga asal Desa/Kecamatan Pasrujambe yang bermukim dekat bantaran DAS Besuk Sat.
Hanya saja, berkah para penambang tradisional pasir dan batu Semeru ini juga sempat terusik dengan hadirnya alat berat berupa mesin beghoe yang dalam dioperasikan pengusaha pertambangan pasir besar di lokasi itu. Hingga, masyarakat penambang pasir tradisional ini juga kerap mengeluhkan katena kerja mereka jadi kurang optimal untuk mengais rupiah, karena pekerjaannya tergantikan dengan mesih baja itu.
Akibatnya, sempat muncul insiden penolakan operasionalisasi meisn beghoe di DAS Besuk Sat oleh para penambang tradisional di sana. ”Kalau pengusana penambangan pasir mengoperasikan mesin beghoe, terus kami kerja apa. Bagaimana kami mencari nafkah, jika tenaga kami digantikan mesin seperti itu,” ucap Wagino.
Di bagian yang sama, terkait aliran lahar dingin yang belakangan kerap meluncur memenuhi DAS di kaki Gunung Semeru, Drs Rochani Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mengatakan, adanya lahar dingin Semeru memang berkah bagi penambang, khususnya bagi mereka yang bekerja secara tradisional.
”Meski, luncuran lahar dingin itu juga bisa menjadi musibah bagi armada truk yang hendak mengangkut pasir. Karena ada beberapa truk yang terjebak lahar dingin. Truk yang terseret lahar dingin itu, mereka nekat mengambil pasir dan turun ke sungai,” ungkap Drs Rochani.
Seperti dicontohkan Kepala BPBD Kabupaten Lumajang ini dalam peristiwa terseretnya beberapa truk pasir di Kali Rejali maupun Besuk Sat karena keurang waspadaan mereka menyikpai potensi bencana yang terjadi. Untuk itu. BPBD Kabupaten Lumajang tetap mengimbau pada penambang pasir tidak melakukan aktivitas jika di lereng Gunung Semeru ada mendung hitam gelap.
Pasalnya, lahar dingin bisa meluncur cepat ke hilir aliran sungai Semeru. ”Biasanya kalau di bagian bawah terang dan di atas mendung, lahar dingin Semeru bisa terjadi dan melalui sungai. Itu jelas berbahaya,” urai Drs Rochani.
Sebab, ketika hujan terus mengguyur dengan intensitas sangat tinggi, terutama di puncak Semeru, hal ini akan menyebabkan material yang menumpuk di bibir kawah yang sudah gembur dengan endapan vulkanik, mudah ambrol.
“Selanjutnya, akan terjadi luncuran material vulkanik yang akan memenuhi sepanjang DAS Semeru. Luncuran ini berupa lahar dingin. Untuk itu, kami mengimbau agar masyarakat terus meningkatkan kewaspadaannya. Terutama yang wilayahnya dilintasi DAS Semeru, diantaranya Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Kobokan, Besuk Sat, Kaliglidik, Kali Rejali dan lainnya,” demikian pungkas Drs Rochani.




